Rhenald Kasali Jelaskan Perang Dunia Kelima yang Dialami Saat Ini


Jakarta, NU Online
Komisaris Utama PT Telkom Indonesia Rhenald Kasali menjelaskan bahwa saat ini peradaban manusia sedang memasuki atau mengalami era perang dunia kelima. Kenyataan tersebut sangat nyata, sebagai sebuah perjalanan peradaban yang terus mengalami perubahan. 

 

Selama ini, sebagian besar orang hanya mengenal perang dunia pertama (1914-1918), kedua (1939-1945), dan ketiga yakni perang dingin yang sangat lama (1947-1991). Lalu perang dunia keempat atau disebut oleh Rhenald sebagai perang menghadapi terorisme sejak 2001. 

 

“Sekarang mulai terjadi perang dunia kelima yaitu perang narasi. Kita sekarang sedang mengalami perang narasi. Seluruh dunia sedang terjadi perang narasi dan kita harus berani menghadapi perang itu,” ungkap Rhenald secara virtual dalam tayangan galawicara bertajuk Disrupsi Teknologi dan Dampak pada Peradaban Global, Senin (15/3) sore.

 

Perang narasi ini dialami oleh semua bangsa di dunia. Mulai dari bisnis, politik, ekonomi, sosial, hingga budaya. Hal yang disoroti Rhenald adalah ketika Lombok dan Palu terjadi gempa bumi yang menimbulkan adanya orkestrasi dari pihak lawan. 

 

“Pada waktu saya menjadi Komut Angkasa Pura II itu terasa sekali pada waktu akan diresmikannya terminal 3 dengan segala kekurangannya. Setelah kami lihat, itu diorkestrasi oleh buzzer yang dibiayai dari negara-negara tetangga kita. Sekarang sudah terjadi,” ungkapnya. 

 

Kemudian dijelaskan pula berbagai penyebab perubahan peradaban yang terjadi di dunia. Pertama, karena terdapat tekanan populasi dunia yang saat ini sudah mencapai 7,8 miliar jiwa. Perkembangan jumlah populasi ini meningkat tajam dari masa ke masa. 

 

“Sebulan atau dua bulan lalu saya lihat masih 7,7 miliar. Cepat sekali. Pada tahun 1800 itu belum sampai 1 miliar, sekarang sudah 7,8 miliar, sehingga ada pertarungan untuk memperebutkan resources di atas muka bumi ini. Bahkan sampai manusia harus mencari resource baru, mencari tempat tinggal baru,” tuturnya.

 

Penyebab yang kedua, lanjut Rhenald, terjadi perubahan teknologi baru yang semakin maju dan berpotensi menggantikan peran dari teknologi terdahulu. Hal ini sangat berkembang cepat lantaran ditengarai munculnya teknologi penopang lainnya seperti nano teknologi dan data sains. 

 

Selanjutnya yang ketiga, perubahan dunia diperkuat pula dengan kompetisi antarbangsa untuk memperoleh pangsa pasar. Jadi hari ini ada banyak sekali hal-hal yang berubah. Salah satunya yang terjadi di bidang kesehatan, terutama pada masa pandemi Covid-19 seperti saat ini. 

 

“Semula dokter tidak mau menggunakan metode tele medicine (pengobatan jarak jauh). Karena menurut kaidah kedokteran, pasien harus diperiksa tatap muka, pakai alat stetoskop kemudian disentuh dan ditanya atau diajak berbicara. Harus seperti itu,” jelas Rhenald.

 

Namun dunia menuntut untuk segala sesuatunya berubah. Terdapat banyak dokter yang tidak memiliki Alat Pelindung Diri (APD), pasien yang menderita penyakit tidak bisa datang ke rumah sakit, para dokter senior pun tidak praktik. 

 

“Akhirnya para praktisi dokter dan farmasi lebih bisa menerima pengambilan obat dan resep secara online dan mendiagnosis pasien secara online untuk menyambut era baru ini,” terang Guru Besar Bidang Ilmu Manajemen di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini.

 

Menurutnya, teknologi yang baru saat ini mengakibatkan peradaban di seluruh dunia mengalami disrupsi besar-besaran. Segala cara yang dilakukan manusia dalam mengonsumsi sesuatu pun turut berubah. Bahkan, semula manusia hanya mengonsumsi tetapi kini terlibat dalam sebuah orkestrasi besar. 

 

“Mulai dari apa pun yang manusia lakukan kemudian mereka sebarkan. Semua orang ingin menjadi content provider (pemberi konten). Setelah sharing atau manusia menyebarkan apa yang dikonsumsi lalu melakukan shaping. Dipertajam, dipotong, ditambahkan, diberikan nuansa lain,” ungkap Rhenald. 

 

Setelah melakukan itu semua, kini seluruh umat manusia di dunia mulai terlibat dalam upaya funding atau pendanaan. Hal inilah yang merupakan strategi ISIS. Organisasi teroris dunia ini kerap menggunakan tagar-tagar populer di media sosial. 

 

“Mereka akhirnya menemukan tagar we only live once, kita hanya hidup sekali. Tapi mereka bisa menggantinya dengan we only die once, kita mati hanya sekali. Mereka menggunakan cerita bagus menggunakan story telling, akhirnya mereka bisa mengumpulkan funding dari mana-mana,” katanya.

 

Kekuatan story telling di dunia akhirnya begitu meluas dan membuat kelompok-kelompok tertentu dengan berbagai kepentingan muncul dengan sangat cepat,” tambah Rhenald.

 

Ia lantas menjelaskan berbagai perubahan teknologi yang terjadi. Semula, teknologi berupa chip yang besar. Lalu berubah menjadi dekstop atau komputer dengan perangkat yang besar. Setelah itu, berkembang lagi menjadi laptop.

 

“Kemudian ada stick pembuat musik seperti ipod dan berkembanglah teknologi digital yang terjadi sekarang. Karena itu, smartphone muncul dan menggeser telepon analog  yang hanya bisa SMS (pesan singkat),” jelas Rhenald.

 

Telepon seluler analog tersebut akhirnya berhasil dikalahkan dengan smartphone yang ada jaringan internetnya. Lalu google masuk dan membuat aplikasinya bisa digunakan dengan perangkat smartphone. 

 

“Dari smartphone inilah sekarang dunia digerakkan. Jadi, benda yang kecil ini begitu memiliki power full (kekuatan penuh) karena semuanya bisa disimpan. Inilah fenomena yang disebut #MO (mobilisasi dan orkestrasi),” tutup Rhenald.

 

Untuk diketahui, selain Rhenald, hadir pula dua pembicara lain yakni Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H Robikin Emhas dan Ketua Umum Pagar Nusa sekaligus Komisi IX DPR RI Muchamad Nabil Haroen.

 

Galawicara tersebut merupakan salah satu program terbaru dari Televisi Nahdlatul Ulama (TV NU) yang membahas revolusi telekomunikasi dan digitalisasi. Program ini hasil kerja sama dengan PT Telkom Indonesia. 

 

Pewarta: Aru Lego Triono
Editor: Kendi Setiawan



NU Online

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *