Prosesi Maulid Nabi SAW di Betawi

Jakarta|NUJakarta.com

Sebagai sebuah produk kebudayaan, Maulid Nabi SAW diperingati dengan berbagai macam prosesi yang satu daerah dengan daerah lainnya memiliki perbedaan, bahkan di masyarakat Betawi sendiri. Walaupun kegiatan intinya sama, yaitu pembacaan kisah Maulid Nabi SAW berupa puisi panjang yang digubah oleh para ulama besar yang juga ahli syair, yang di Betawi disebut dengan rawi, dan umumnya berasal dari kitab Syaraf al-Anam karya Syaikh al-Barzanji yang dikenal dengan Rawi al-Barzanji dan kitab Ad-Diba`i karya al-Imam Abdurrahman bin Ali ad-Diba’iasy-Syaibaniaz-Zubaidi yang dikenal dengan nama Rawi ad-Diba`i walaupun ada pula yang berasal dari kitab Maulid Azabi, karya Syaikh Muhammad al-Azabi.

Pada Desember 2005, Jakarta Islamic Centre (JIC) pernah mengadakan Workshop Maulid Nabi SAW Khas Betawi yang mengemukakan perbedaan prosesi peringatan Maulid Nabi SAW Khas Betawi dari beberapa wilayah, yaitu dari masyarakat Betawi wilayah Sunter, Jakarta Utara, masyarakat Betawi wilayah Cempaka Putih, Jakarta Pusat, masyarakat Betawi wilayah Buncit, Jakarta Selatan (termasuk Mampang, Tegal Parang, dan sekitarnya), masyarakat Betawi Kebon Nanas, Jakarta Timur, dan masyarakat Betawi Rawa Belong, Jakarta Barat (termasuk Kampung Baru, Cidodol, Kebon Nanas, dan Kebayoran Lama).

Prosesi Maulid Nabi SAW yang diselenggarakan oleh masyarakat Betawi wilayah Sunter, Jakarta Utara, adalah hanya membacakan kitab Syaraf al-Anam. Prosesi Maulid Nabi SAW masyarakat Betawi Cempaka Putih, Jakarta Pusat, terdiri atas dua tahap, yaitu pertama, membacakan kitab Syaraf al-Anam saat sampai ke narasi asyrakal diadakan penyemprotan minyak wangi dan kedua, makan nasi uduk dan lauk-pauknya bersama-sama.

Sedangkan, prosesi Maulid Nabi SAW yang diselenggarakan oleh masyarakat Betawi wilayah Buncit, Jakarta Selatan, (termasuk Mampang, Tegal Parang, dan sekitarnya) terdiri atas dua tahap, yaitu pertama, membacakan kitab Maulid Azabi (RawiAzabi) dan kedua, penutup doa rawi.

Adapun, prosesi Maulid Nabi SAW yang diselenggarakan oleh masyarakat Betawi Kebon Nanas, Jakarta Timur, terdiri atas tiga tahap, yaitu pertama, membacakan kitab Syaraf al-Anam, kedua, doa, dan ketiga, makan nasi kebuli.

Khusus di Betawi Rawa Belong (termasuk Kampung Baru, Cidodol, Kebon Nanas, dan Kebayoran Lama), biasanya peringatan Maulid Nabi SAW lebih banyak ditemui pada acara ‘malammangkat’ atau acara sebelum akad nikah. Dengan ciri khas menabuh rebana ketimpring ketika pembacaan asyrakal.

Bacaan yang dibaca adalah kitab Syaraf al-Anam yang kadang dibaca secara bergantian. Di tengah-tengah peserta dan pembaca MaulidNabi SAW sudah disiapkan kembang, air putih satu gelas, stanggi sebagai pengharum ruangan, dan minyak wangi (HajarAswad) yang ketika sampai kepada pembacaan asyrakal akan dicolekkan ke tangan yang hadir.

Pada kesempatan lain, ketika sampai kepada pembacaan asyrakal dinyalakan petasan. Setelah itu, dilakukan pembacaan doa penutup. Disusul kemudian dengan acara menyantap hidangan khas, yaitu kue pepe, air teh, dan kopi. Nasi putih satu nampan berisi semur daging, buncis, kacang, kentang yang diberi cabai dan srondeng. Biasanya satu nampan dihidangkan untuk empat orang. Menu ini lebih dikenal dengan nama nasi berkat dengan alat pembungkusnya berupa daun jati. Konon, istilah berkat artinya yang ngembrek atau diangkat.

Selain prosesi yang ditampilkan pada workshop di JIC tersebut, ada lagi prosesi Maulid Nabi SAW khas Betawi Condet, Jakarta Timur, yang memiliki keunikan tersendiri. Prosesi peringatan Maulid Nabi SAW yang dilakukan oleh masyarakat Betawi Condet intinya terdiri atas tiga tahapan prosesi, yaitu pertama, proses penyambutan guru atau kiai.

Ketika sang kiai datang, para pemuda Betawi dengan dipimpin tokoh masyarakat menyambutnya dengan alunan musik rebana, kemudian diantarkan masuk ke rumah singgah yang telah disiapkan. Setelah sang kiai cukup istrirahatnya, musik rebana kembali dipukul bersaut-sautan sebagai pertanda bahwa kiai itu telah siap menuju ke masjid, tempat dilangsungkannya peringatan Maulid Nabi SAW.

Jalan yang ditempuh iring-iringan obor dan musik rebana itu kira-kira 500 meter. Sepanjang jalan yang dilalui, masyarakat menyaksikannya sambil memberi penghormatan kepada sang kiai. Menjelang sampai di halaman masjid, masyarakat menyambutnya dengan atraksi pencak silat.

Pawai obor ini bermaksud sebagai simbol usaha memerangi kegelapan. Karena, saat awal mendakwahi Islam, banyak hambatan yang ditemui para kiai waktu itu. Antara lain, kejahatan dan keterbelakangan. Sedangkan, pencak silat yang dipertontonkan dalam penyambutan ini dimaksudkan sebagai salam penghargaan kepada orang yang dihormati, kedua, pembacaan Rawi Barzanji dan ceramah agama, dan ketiga, makan nasi kebuli bersama.

Selain itu, di Betawi, pembacaan riwayat Nabi Muhammad SAW diringi dengan Rebana Maulid. Tidak seluruh bacaan diiringi rebana. Hanya bagian tertentu dari Rawi al-Barzanji, seperti Assalamualaika, Bisyahri, Tanaqqaltu, Wulidalhabibu, Shalla ‘Alaika, Badat Lana, dan Asyrakal.

Pada saat bagian Asyrakal, pukulan rebana dilakukan lebih semangat karena semua hadirin berdiri. Pukulan Rebana Maulid berbeda dengan pukulan rebana khas Betawi lainnya. Nama-nama pukulan Rebana Maulid disebut pukulan jati, pincang sat, pincang olir, dan pincang harkat.

Oleh: Rakhmad Zailani Kiki (Kepala Divisi Pengkajian dan Pendidikan Jakarta Islamic Centre dan  Sekretaris RMI NU DKI Jakarta )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *