Lembaga Bahtsul Masail LBM NU DKI Jakarta : Orang Islam Masuk Gereja seperti dalam trailer film The Santri & Status Kewarganegara WNI yang bergabung dengan ISIS

Jakarta| nujakarta.com

Minggu, 27-10-2019, pukul. 10.00—15.00 WIB, Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Wilayah Nahdhatul Ulama (LBM PWNU) DKI Jakarta menggelar bahtsul masail dan diskusi mengenai dua permasalahan. Pertama, orang Islam memasuki gereja dan memberikan makanan kepada jamaah gereja. Kedua, mengenai status kewarganegaraan WNI yang bergangung dengan ISIS di Suriah-Irak. Bahtsul masail dilaksankan untuk mendapat jawaban yang didasarkan kepada argumentasi dari kitab kuning karya ulama salaf sl-shalih dan mu’tabarah (credible).

Peserta yang hadir dalam Bahtsul masail ini yaitu, KH. Dr. Mulawarman Hannase, KH. Taufik Damas, Lc, KH. Mukti Ali Qusyairi, MA, KH. Zen Ma’arif, M.Hum, Kiyai Saepullah, MA, KH. Roland Gunawan, Kiyai Ahmad Hilmi, MA Kiyai Faruq Hamdi, Kiyai Kam Taufiq, Kiyai Ade Pardiansyah, Kiyai Mohammad Khoiron, M.Hum, Kiyai Azaim, Ustadz Diki, Ustadz Fakhru Razi, Bapak Pradhana Adimukti, Ustadz Ahmad Fairuzabadi

Pembasan ini di mulai dengan orang Islam memasuki gereja (tempat ibadah non muslim) hukumnya boleh, bahkan  untuk melaksanakan shalat sekalipun, dengan syarat mendapatkan izin dari penghuni atau pengurus gereja. Diperbolehkan memasuki gereja dengan seizin penghuni atau pengurus gereja, diqiyaskan kepada seseorang yang hendak memasuki rumah orang lain. Jika pemilik rumah mengizinkannya, maka diperbolehkan memasuki rumahnya. Jika tidak dizinkan, maka tidak boleh/haram memasukinya.

Memang ada yang berpendapat bahwa memasuki gereja adalah haram, apabila terdapat patung (tashwir, shurah atau tamatshil) di dalamnya. Pendapat ini lemah dan terbantahkan, karena ada bukti sejarah, bahwa Rasulullah SAW pernah masuk dan shalat di dalam Ka’bah pada masa Jahiliyah, padahal di dalamnya terdapat patung. Sebagian sahabat pun pernah memasuki gereja yang di dalamnya terdapat patung. Abu Musa, salah seorang sahabat Nabi, melaksanakan shalat di gereja Nahya Damascus. Shalat di gereja, dengan demikian sah, dengan syarat mendapatkan izin dan suci dari najis. Bahkan, Syekh Khathib al-Sarbini dalam kitab Mughni al-Muhtaj (jilid 6, hal. 78), menyatakan bahwa diperbolehkan umat Islam membantu merenovasi gereja yang rapuh atau roboh.

Lalu bagaimana dengan memberikan makanan, seperti pemberian tumpeng dalam adegan film The Santri, kepada non-Muslim? Para kiyai merumuskan, bahwa halal bersedekah makanan kepada non-Muslim, orang fasiq, bahkan sekalipun kepada kafir al-harbiy (non-Muslim yang memerangi umat Islam), dan mendapatkan pahala kelak di akhirat. Hal ini diperkuat dengan fakta sejarah bahwa Nabi Muhammad SAW memberi makanan dan menyuapi kepada seorang Yahudi buta pembenci Nabi Muhammad SAW dengan umpatan, bully, dan mengeluarkan kata-kata kotor. Seorang Yahudi itu tidak tahu kalau yang menyuapi makanan setiap hari itu adalah orang yang paling dibencinya, yaitu Nabi Muhammad SAW. Dia baru diberi tahu oleh Abu Bakar as-Shidiq, setelah Nabi Muhammad SAW wafat.

Banser menjaga gereja juga dibahas dalam bahtsul masail. Para kiyai menyatakan bahwa, Negara wajib menjaga keamanan bagi seluruh rakyat baik nyawa, properti, dan tempat ibadah. Jika ada tempat ibadah, seperti: gereja, pura dan lainnya, terancam dari tindakan terorisme, maka Negara wajib menjaganya. Jika Negara kekurangan tenaga atau personil, atau tidak hadir, maka rakyat (sebagaimana Banser) boleh bahkan wajib berpartisipasi menjaganya dalam rangka amar ma’ruf nahi munkar untuk mengantisipasi tindakan dzhalim kepada non-Muslim. Haram berbuat dzhalim kepada siapapun, termasuk kepada non-Muslim. Nabi mengatakan, “Barang siapa yang menyakiti non-Muslim yang berdamai (dhimmy), maka dia telah meyakitiku”.

Diskusi kedua, yaitu status kewarganegaraan WNI (Warga Negara Indonesia) yang bergabung dengan ISIS (Islamic State of Irak and Suriah) di Irak-Suriah. ISIS muncul di wilayah Irak yang sedang dianeksasi oleh Amerika Serikat dan sekutu dengan alasan menggulingkan Sadam Husein yang dianggap otoriter dan memiliki senjata pemusnah masal. ISIS pun tumbuh di wilayah Suriah, disebabkan konflik bersenjata antara oposisi dan pemerintah Bassar al-Asad. ISIS didirikan oleh Abu Mus’ab al-Zarqawi pada tahun 2014, dan mengangkat Abu Bakar al-Baghdadi sebagai Khalifahnya. Pendukung ISIS di Irak-Suriah datang dan bergabung dari berbagai Negara, tak terkecuali warga negara yang berasal dari Indonesia (WNI).

Setidaknya ada empat golongan WNI yang ingin atau sudah berbagung dengan ISIS. Pertama, golongan yang sudah bergabung dan ikut berperang bersama ISIS di Irak-Suriah, seperti Bahrumsyah, Bahrun Na’im, dan kawan-kawannya baik dari kalangan perempuan maupun anak-anak. Kedua, berhasil bergabung dengan ISIS, akan tetapi menyesal lantaran merasa tertipu oleh propaganda ISIS. Propaganda ISIS yang disampaikan melalui Medsos yang mereka percayai, bahwa jika bergabung dengan ISIS, maka akan mendapatkan uang bulanan, beras dan makanan. Hidup di ISIS digambarkan seakan seperti di surga, akan tetapi keyataannya bahwa hidup di ISIS terasa di neraka; hidup tidak tenang lantaran penuh dengan kekerasan dan peperangan, pelecehan seksual, perbudakan seks, pasar budak. Ketiga, golongan yang tidak berhasil menembus wilayah perbatasan Turki, Irak, Suriah. Mereka hidup terlunta-lunta di wilayah perbatasan, dan tidak berhasil bergabung dengan ISIS. Keempat, golongan yang ingin bergabung dengan ISIS dan baru sampai di bandara dikembalikan lagi ke Indonesia.

Para kiyai merumuskan bahwa, semua golongan ISIS dan golongan yang anti NKRI sudah tergolongan sesat dan ahli maksiat, sebab; Pertama, mereka memberikan loyalitasnya (wala) kepada ISIS dan berlepas diri (bara) dengan NKRI. Mereka meyakini bahwa NKRI adalah thaghut. Padahal, menurut para kiyai, bahwa Indonesia tidak bisa disebut thaghut, sebab Negara Indonesia memberikan kebebasan dalam mengekspresikan keyakinan (ibadah), serta berbagai urusan keagamaan melalui Kemenag, yaitu haji, umrah, pernikahan, wakaf, waktu Ramadhan dan lebaran, penanggalan, waktu shalat, dan yang lainnya. Dan menghargai keyakinan dan ekspresi keberagamaan agama lain. Para kyai berpendapat, bahwa Indonesia yang berasaskan Pancasila adalah termasuk dar al-mitsaq (Negara yang berdasarkan perjanjian sesama anak bangsa), sebagaimana Rasulullah SAW membangun Negara Madinah bersama para tokoh dari berbagai agama dan suku dengan mitsaq al-Madinah (perjanjian Madinah).

Kedua, pengikut atau pun pendukung ISIS, adalah orang yang tidak taat, tidak mematuhi, dan bahkan mengingkari ideologi dan hukum Negara. Padahal, taat kepada Undang-Undang, hukum, dan ideologi Negara adalah wajib ditaati bagi seluruh rakyat (QS. An-Nisa: 59). Mereka meninggalkan kewajiban, dan bahkan mengingkari kewajiban. Ketiga, mengajarkan kebencian dan menghalalkan kekerasan atas nama jihad. Karena itu, mereka harus bertaubat dan diupayakan untuk bertaubat dari paham sesat tersebut. Jika mereka melakukan indoktrinasi pemahamannya yang menyesatkan itu, propaganda, rekrutmen, dan latihan perang (i’dad) serta merencanakan tindakan terorisme, maka mereka adalah bughat (pemberontak) yang harus diperangi.

Status kewarganegaraan dari keempat golongan tersebut, para kiyai memberi jawaban dalam rumusan sebagai berikut; Pertama, WNI yang bergabung dengan ISIS di Suriah-Irak, mereka telah melakukan tindak kejahatan terorisme dan berperang untuk ISIS di Negara Suriah-Irak, dan orang yang sudah berpartisipasi atau ikut bergabung dengan cara sengaja masuk ke Suriah dan Irak, dengan menghilangkan atau membuang dokumen negara baik itu paspor negara asal maupun visa, maka harus dihukum di Negara di mana mereka melakukan kejahatan sesuai dengan hukum yang berlaku di nagara tersebut (Suriah-Irak). Sebab, dalam perspektif fikih, bahwa hukuman terhadap seseorang, terkait dengan kesalahan yang dilakukan kepada siapa dan di mana (locus delicti).

Kedua, bagi orang-orang yang tidak melakukan kejahatan perang atau tindakan terorisme di Negara lain, diperbolehkan untuk kembali ke Indonesia dengan syarat melakukan ikrar setia kepada NKRI dan mau melaksanakan undang-undang dan hukum yang berlaku di Indonesia serta menandatangani surat pernyataan ikrar setia kepada NKRI dan taat kepada hukum yang berlaku di Indonesia, serta bersedia mengikuti program deradikalisasi, rehabilitasi, bela negara dan komitmen dalam membangun Indonesia di berbagai bidang. Apabila tidak mau menandatangan ikrar dan lainnya tersebut, maka pemerintah Indonesia berhak menolak mereka kembali ke Indonesia dan pemerintah Indonesia berhak mencabut kewarganegaraan sebagai warganegara Indonesia. Ini pun berlaku kepada semua orang yang ada di Indonesia yang telah melepaskan diri (bara) kepada Indonesia dan wala (loyal) kepada selain Indonesia.

Terakhir para kyai menegaskan, bahwa ISIS merupakan gerakan yang menyebabkan terjadinya konflik bersenjata dan kejahatan kemanusiaan di Suriah dan di Irak, yang disebabkan oleh campur tangan negara-negara di luar Suriah dan Irak. Dengan demikian, negara-negara yang terlibat berkewajiban untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. PBB sebagai lembaga negara dunia pun berkewajiban ikut campur untuk menyelesaikan persoalan warga negara yang ikut dan bergabung dengan ISIS.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *