*KAJIAN TENTANG HADITS KIAMAT TANGGAL 15 RAMADHAN 1441 H / 8 MEI 2020 TAHUN INI*

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

إِنَّ ٱلسَّاعَةَ ءَاتِيَةٌ أَكَادُ أُخْفِيهَا لِتُجْزَىٰ كُلُّ نَفْسٍۭ بِمَا تَسْعَىٰ

“Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang Aku merahasiakan (waktunya) agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan”. ( QS Thaha: 15 )

يَسْأَلُكَ النَّاسُ عَنِ السَّاعَةِ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللَّهِ وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ تَكُونُ قَرِيبًا

“Manusia bertanya kepadamu tentang hari berbangkit. Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang hari berbangkit itu hanya di sisi Allah”. Dan tahukah kamu (hai Muhammad), boleh jadi hari berbangkit itu sudah dekat waktunya.” (QS. Al Ahzab: 63)

Sejumlah pihak menghubungkan kiamat sudah dekat antara lain terkait penutupan Masjidil Haram oleh Pemerintah Saudi. Langkah itu diambil Kerajaan Arab Saudi sebagai langkah antisipasi penyebaran virus Corona (Covid-19). Kini area sekitaran Ka‘bah menjadi kosong dan tak ada yang thawaf. Bahkan jika wabah akibat virus ini tak kunjung bisa ditanggulangi, kemungkinan besar Pemerintah Saudi akan memperpanjang masa penutupan Masjidil Haram hingga musim haji. Walhasil, tidak ada ibadah haji tahun ini. Tapi Alhamdulillah saat ini raja Salman sudah membuka haramain untuk shalat tarawih meskipun masih dibatasi jama’ahnya dan tata caranya.

Kondisi ini dihubung-hubungkan oleh sementara pihak dengan tanda-tanda kiamat. Salah satunya yang disebutkan dalam hadits

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى لاَ يُحَجَّ البَيْتُ

“Tidak akan terjadi Kiamat sampai Baitullah tak jadi tempat berhaji.” (HR. Bukhari)

Secara harfiah, hadits ini memang menunjukkan satu peristiwa yang akan terjadi sebelum kiamat. Namun, tidak serta merta ketiadaan orang berhaji di Baitullah mengantarkan peristiwa kiamat. Selain itu, peristiwa penutupan Ka‘bah juga terjadi bukan kali ini saja.

Sebelum menyampaikan hadits ini, al-Bukhari menyampaikan hadis lain yang secara harfiah maknanya bertolak belakang, yaitu:

لَيُحَجَّنَّ البَيْتُ وَلَيُعْتَمَرَنَّ بَعْدَ خُرُوجِ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ

“Baitullah benar-benar akan jadi tempat berhaji dan berumrah setelah keluarnya Ya’juj-Ma’juj.” (HR. Bukhari)

Syekh Abu Muhammad Mahmud dalam ‘Umdatul Qari Syarh Shahih al-Bukhari menjelaskan, hadits kedua menunjukkan adanya ibadah haji setelah keluarnya tanda-tanda kiamat. Sementara hadits yang pertama menunjukkan tak ada lagi yang berhaji menjelang kiamat. Meski demikian, pemahaman kedua hadits ini bisa digabungkan, seperti dimaknai: Dengan berhajinya orang-orang setelah keluar Ya‘juj-Ma’juj, tidak mesti ibadah haji menjelang kiamat menjadi terhalang.

Terlebih disampaikan oleh Imam al-Bukhari bahwa riwayat hadits tentang Ya’juj-Ma’juj ini lebih banyak. Ini artinya, seperti ditandaskan oleh Syekh Abu Muhammad, “ البيت يحج الى يوم القيامة (Al-baitu yuhajju ila yaumil qiyamah) ”Baitullah itu jadi tempat ibadah haji hingga hari Kiamat.”

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ، فِيْهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيْهِ أُدْخِلَ الْجَنَّةَ، وَفِيْهِ أُخْرِجَ مِنْهَا، وَلاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ إِلاَّ فِيْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ

“Sebaik-baik hari dimana matahari terbit adalah hari Jum’at. Pada hari Jum’at Adam diciptakan, pada hari itu dia dimasukkan ke dalam surga dan pada hari Jum’at itu juga dia dikeluarkan dari Surga. Hari Kiamat tidaklah terjadi kecuali pada hari Jum’at.” (HR. Muslim no. 854)

Hari ini adalah Jum’at, 8 Mei 2020 bertepatan dengan tanggal 15 Ramadhan 1441 H. Semenjak masuk bulan Ramadan 24 April yang lalu, beredar broadcast di media sosial bahwa kiamat akan terjadi pada malam Jumat atau hari Jumat pertengahan bulan Ramadan malam ini. Benarkah demikian?

Banyak pertanyaan seputar hadist tentang suara keras di pertengahan Ramadan karena pertengahan Ramadan tahun ini bertepatan dengan hari Jumat, suara yang muncul tersebut katanya sebagai tanda huru-hara akhir zaman. Teks panjang yang diklaim sebagai hadits Nabi itu berbunyi sebagai berikut.

Nu’aim bin Hammad berkata: “Telah menceritakan kepada kami Abu Umar, dari Ibnu Lahi’ah, ia berkata; telah menceritakan kepadaku Abdul Wahhab bin Husain, dari Muhammad bin Tsabit Al-Bunani, dari ayahnya, dari Al-Harits Al-Hamdani, dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda,

إِذَا كَانَتْ صَيْحَةٌ فِي رَمَضَانَ فَإِنَّهُ يَكُونُ مَعْمَعَةٌ فِي شَوَّالٍ، وَتَمْيِيزُ الْقَبَائِلِ فِي ذِيِ الْقَعْدَةِ، وَتُسْفَكُ الدِّمَاءُ فِي ذِيِ الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمِ، وَمَا الْمُحَرَّمُ» ، يَقُولُهَا ثَلَاثًا، «هَيْهَاتَ هَيْهَاتَ، يُقْتَلُ النَّاسُ فِيهَا هَرْجًا هَرْجًا» قَالَ: قُلْنَا: وَمَا الصَّيْحَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: ” هَدَّةٌ فِي النِّصْفِ مِنْ رَمَضَانَ لَيْلَةَ جُمُعَةٍ، فَتَكُونُ هَدَّةٌ تُوقِظُ النَّائِمَ، وَتُقْعِدُ الْقَائِمَ، وَتُخْرِجُ الْعَوَاتِقَ مِنْ خُدُورِهِنَّ، فِي لَيْلَةِ جُمُعَةٍ، فِي سَنَةٍ كَثِيرَةِ الزَّلَازِلِ، فَإِذَا صَلَّيْتُمُ الْفَجْرَ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَادْخُلُوا بُيُوتَكُمْ، وَاغْلِقُوا أَبْوَابَكُمْ، وَسُدُّوا كُوَاكُمْ، وَدِثِّرُوا أَنْفُسَكُمْ، وَسُدُّوا آذَانَكُمْ، فَإِذَا حَسَسْتُمْ بِالصَّيْحَةِ فَخِرُّوا لِلَّهِ سُجَّدًا، وَقُولُوا: سُبْحَانَ الْقُدُّوسِ، سُبْحَانَ الْقُدُّوسِ، رَبُّنَا الْقُدُّوسُ، فَإِنَّ مَنْ فَعَلَ ذَلِكَ نَجَا، وَمَنْ لَمْ يَفْعَلْ ذَلِكَ هَلَكَ

“Bila telah muncul suara di bulan Ramadan, maka akan terjadi huru-hara di bulan Syawal, kabilah-kabilah saling bermusuhan (perang antarsuku) di bulan Dzulqa’dah, dan terjadi pertumpahan darah di bulan Dzulhijjah dan Muharram.” Beliau mengulanginya sampai tiga kali. “Mustahil, mustahil, manusia dibunuh ketika itu, banyak terjadi kekacauan.”

Kami bertanya: “Suara apakah, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Suara keras di pertengahan bulan Ramadan, pada malam Jum’at, akan muncul suara keras yang membangunkan orang tidur, menjadikan orang yang berdiri jatuh terduduk, dan para gadis keluar dari pingitannya pada malam Jum’at di tahun terjadinya banyak gempa. Jika kalian telah melaksanakan shalat Shubuh pada hari Jum’at, masuklah kalian ke dalam rumah kalian, tutuplah pintu-pintunya, sumbatlah lubang-lubangnya, selimutilah diri kalian, dan sumbatlah telinga kalian. Jika kalian merasakan adanya suara menggelegar, maka bersujudlah kalian kepada Allah dan ucapkanlah: “Mahasuci Allah Al-Quddus, Mahasuci Allah Al-Quddus, Rabb kami Al-Quddus”. Barang siapa melakukan hal itu, niscaya ia akan selamat. Akan tetapi, barang siapa yang tidak melakukannya, niscaya ia akan binasa”.

(Hadist ini diriwayatkan oleh Nu’aim bin Hammad di dalam kitab Al-Fitan 1:228, no.638, dan Alauddin Al-Muttaqi Al-Hindi di dalam kitab Kanzul ‘Ummal, no. 39627).

Perlu diketqhui bahwa hadits tersebut derajatnya palsu (maudhu’), karena di dalam sanadnya terdapat beberapa perawi hadits yang dicap sebagai pendusta dan bermasalah sebagaimana diperbincangkan oleh para ulama hadis. Para perawi tersebut antara lain :

1. Nu’aim bin Hammad, dia seorang perawi yang dha’if (lemah),
2. Ibnu Lahi’ah (Abdullah bin Lahi’ah), dia seorang perawi yang dha’if (lemah), karena mengalami kekacauan dalam hafalannya setelah kitab-kitab hadistnya terbakar.
3. Abdul Wahhab bin Husain, dia seorang perawi yang majhul (tidak dikenal) menurut al-Hakim dan Ibnu Hajar.
4. Muhammad bin Tsabit Al-Bunani, dia seorang perawi yang dha’if (lemah dalam periwayatan hadist) sebagaimana dikatakan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani, Ibnu Hibban, An-Nasa’i dan Ibn ‘Adi
5. Al-Harits bin Abdullah Al-A’war Al-Hamdani, dia seorang perawi pendusta, sebagaimana dinyatakan oleh Imam Asy-Sya’bi, Abu Hatim, dan Ibnu Al-Madini.

Oleh karena itu, hadits ini tidak dapat dijadikan pegangan. Terlebih lagi, hadits ini berkaitan dengan permasalahan ghaib yang tidak diketahui oleh siapapun. Dalam permasalahan hal ghaib, kita tidak boleh menggunakan hadits bermasalah sebagai dalil. Namun demikian, hal ini bukan berarti kita mengabaikan begitu saja pesan dari hadits tersebut. Hadits tersebut memang menjelaskan mengenai hari kiamat yang akan terjadi pada hari Jum’at.

Mengenai hal ini, memang terdapat hadits shahih yang menjelaskan bahwa hari kiamat terjadi pada hari Jum’at, sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Muslim. Menurut Imam al-Munawi dalam syarah Jami‘ al-Shagir, hari kiamat itu terjadi pada hari Jum’at di antara waktu Subuh dan terbitnya matahari. Hari Jum’at kapan kah itu terjadi? Nah, di sini tidak terdapat keterangan khusus mengenai kapan terjadi kiamat. Bisa bulan Ramadan ini, Syawal, atau entah beberapa puluh atau ratusan tahun lagi. Oleh karena itu, marilah kita bekali menghadapi hari yang menakutkan tersebut dengan amal saleh dan hindari perbuatan-perbuatan buruk. Wallahu a‘lam.

Demikian Asimun Ibnu Mas’ud menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *